Senin, 24 Maret 2014

Pengusaha Besar



SPBU PURBAYA GROUP



Purbaya Group adalah bisnis SPBU milik Bapak Unus yang berkantor pusat di Jalan Raya Nginden No 14-16,Surabaya. SPBU Purbaya Group mempunyai cabang di daerah MER, Kalijudan, Buduran dan Mulyosari.
Keterangan yang saya dapat dari Bapak Tris sebagai pengawas di SPBU cabang Mulyosari, total karyawan dari Purbaya Group adalah 110 karyawan dengan rincian : kantor pusat Nginden: 25 orang, MER: 23 orang,  Kalijudan: 22 orang, Buduran:17 orang, dan Mulyosari 23 orang. Omset per hari berkisar antara Rp.70-80jt.
Setiap hari SPBU cabang Mulyosari dapat menjual 23 ton bahan bakar meliputi bensin jenis premium, pertamax dan solar. Solar dan premium adalah jenis bahan bakar yang paling laris.
Untuk mendapatkan stock bahan bakar SPBU cabang Mulyosari mengorder dari Pertamina pada jam pelayanan pukul 14.00 lalu keesokan pagi harinya datang orderan yang diminta.
                        Salah satu kesulitan atau hambatan kecil yang dialami pengusaha SPBU adalah jenis barang yang dijual adalah barang homogen. Sehingga SPBU Purbaya Group meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan dengan memperbaiki pelayanan kepada konsumen dengan menggunakan pelayanan yang bernama Standart Operasional. Contoh: senyum, salam dan sapa kepada konsumen, isi angin gratis dan toilet gratis. Pada saat tertentu SPBU Purbaya Group juga menggunakan pelayanan dengan menggunakan card, baik kartu kredit maupun kartu debit.





KITTO SWALAYAN

                   Kitto Swalayan adalah salah satu swalayan yang terletak di Jalan Mulyosari No 87, Surabaya yang didirikan oleh seorang dokter bernama Dr.Tjipto pada tahun 1988. Saat ini kepengurusan Kitto Swalayan dialihkan kepada Christo, seorang sarjana managemen, putra kandung dari Dr.Tjipto.
                   Pak Christo mengaku tidak mengetahui berapa besarnya modal awal untuk memulai bisnis Kitto Swalayan. Yang beliau tahu, pada awalnya Kitto Swalayan tidak sebesar dan selengkap sekarang.  Kitto Swalayan saat ini 4x lebih besar dari awalnya yang hanya berupa ruko kecil.
                   Pak Christo mengaku pengelolaan Kitto Swalayan masih secara konvensial. Dalam arti beliau sebagai Owner juga sebagai direktur utama sekaligus merangkap sebagai manager. Saat ini Pak Christo mempunyai 42 orang karyawan. Omset per hari mampu mencapai Rp 50-60jt. Beliau belum mempunyai tanggungan, karena belum menikah.






BAKWAN SRI TUNGGAL

Berawal dari menjadi karyawan penjual bakwan keliling selama 4 tahun di daerah Nginden, kini Pak Toyo telah sukses menjadi pengusaha “Bakwan Sri Tunggal”. Usaha Bakwan Sri Tunggal dimulai pada awal tahun 2001 dengan modal awal Rp 24jt untuk 6 gerobak.
Lokasi usaha Bakwan Sri Tunggal terletak di Jalan Tegal Mulyorejo Baru No.46,Surabaya. Saat ini Pak Toyo mempunyai 12 karyawan di rumahnya dan 8 karyawan di cabangnya yang terletak di daerah Bungurasih.
Setiap hari karyawannya memproduksi  bakwan secara gotong royong, lalu berangkat berkeliling menjajakan bakwan dari jam 9.00 – 18.00. Bahan utama dari bakwan adalah menggunakan daging sapi, ayam dan ikan tengiri. Harga untuk satu porsi bakwan adalah Rp 7500,- Untuk omset per hari Pak Toyo mengaku omsetnya tidak terlalu  dia perhitungkan, karena omsetnya juga tidak pasti. Selain itu Pak Toyo juga juga berbagi kepada fakir miskin, anak yatim dan saudara-saudaranya, sehingga Beliau tidak telalu memperhitngkan pemasukan dan pengeluaran. Beliau mengatakan hidup ini yang penting happy.
Hambatan yang dialami adalah mahalnya bahan baku berupa daging dan tengiri yang mahal untuk memproduksi bakwan. Pak Toyo mempunyai tanggungan seorang istri, 2 orang anak dan 5 orang keponakan.

Pengusaha Menengah




Kamis, 20 Maret 2014

Pengusaha Kecil




SEGO JAMUR
Ibu Tini adalah seorang ibu rumah tangga yang berwirausaha sebagai profesi sampingannya. Bu Tini memulai usaha sekitar 3 tahun lalu dengan berjualan sego jamur. Lokasi usahanya terletak di Jalan Gebang Wetan pada sebuah kios berukuran 3x4 meter.
Ide untuk memulai usaha sego jamur adalah Beliau terinspirasi dari makanan Jepang yang bernama Onigiri. Lalu Bu Tini mengadopsi dan berkreasi dengan sego jamur. Mengapa memilih Sego jamur sebagai peluang bisnis karena di Gebang masih sangat jarang penjual sego jamur yang serupa dengan Bu Tini. Hal itu akan memberi peluang pasar yang lebih besar karena tidak ada saingan. Selain itu juga karena jamur tiram adalah makanan yang sehat, jadi tidak menimbulkan penyakit berbahaya.
Proses produksi sego jamur sangat mudah, yaitu nasi di tanak seperti biasa, lalu di tinggal ditambahkan olahan jamur tiram di bagian tengahnya. Jadilah sego jamur yang siap dijual dengan harga Rp 4.000,- untuk porsi kecil dan Rp 6.000,- untuk porsi besar. Keunikan dari produk sego jamur adalah adanya varian rasa pedas, balado, dan barbeque.
Omset penjualan dari sego jamur adalah kurang lebih Rp 300.000,- per hari. Omset tersebut lumayan untuk dapat membantu penghasilan kepala keluarga untuk sekedar tambahan biaya hidup sehari-hari.
Hambatan yang dialami Bu Tini adalah kalau stok jamur tiramnya kosong. Maka otomatis Bu Tini akan berhenti berproduksi. Selama ini Bu Tini mendapat supply jamur tiram dari daerah Bangil dan sekitarnya.
Planning Bu Tini adalah mengembangkan usahanya dengan membuka kios di kantin kampus ITS, PPNS dan PENS.



HIDUP DARI SAYUR
Dari pojok perempatan di Jalan Gebang Wetan, terdapat seorang pedagang sayur yang bisa dikatakan tidak muda lagi. Beliau adalah Bu Usmah. Beliau sudah berwirausaha sebagai pedagang sayur kurang lebih selama 35 tahun, yaitu sekitar tahun 1970an.            “Saya sudah lama sekali berjualan sayur, mulai saya masih perawan dan Gebang termasuk ITS belum dibangun sampai sekarang saya punya anak dan cucu”, begitu kata Bu Usmah saat saya wawancarai.
Bu Usmah yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar memilih berwirausaha sebagai pedagang sayur karena Beliau tidak mempunyai keahlian lain selain menjadi pedagang. “Enak begini ae mbak, wong saya juga tidak bisa apa-apa selain jualan. Disini agak jauh dari pasar dan orang-orang juga malas kalau tiap harus belanja sayur ke pasar, jadi ya saya jualan sayur saja”, begitu jawab Bu Usmah saya saya tanya alasan mengapa Beliau memilih berjualan sayur.
Bu Usmah mengaku sudah lupa dengan modal awal untuk memulai usaha sebagai pedagang sayur. Beliau mengatakan modal awalnya tidak lebih dari Rp 50.000,-
 Setiap pukul 03.30 Bu Usmah sudah berangkat ke Pasar Krempyeng untuk “kulakan” sayur. Dulu Bu Usmah pergi ke pasar dengan naik sepeda, sekarang Beliau diantar suaminya naik motor. Macam-macam sayuran yang dijual antara lain: sawi, tomat, cabai, bayam, kangkung, wortel, kubis, kacang-kacangan, tempe dll.
Setelah “kulakan” sayur di pasar yaitu sekitar pukul 04.30 Bu Usmah kembali ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi usahanya, yaitu di Jalan Gebang Lor untuk bersiap-siap mengantar pesanan sayur. Ya, ternyata Bu Usmah juga sebagai pemasok sayuran segar bagi beberapa warung makanan di Gebang dan Keputih. Bu Usmah mempunyai 5 warung langganan tetap ntuk mendapat supply sayur dari beliau.
Setelah selesai mengantar sayur ke warung-warung, Bu Usmah mulai berjualan di Gebang Wetan. Setiap hari berjualan mulai pukul 06.00-16.00. Perkiraan omset perhari yang di dapat Bu Usmah adalah Rp 90.000 – 125.000,-. Pendapatannya tidak menentu setiap harinya, tergantung banyak tidaknya pembeli.
Hambatan yang dialami Bu Usmah dalam usahanya diantaranya adalah saat petani sayur gagal panen karena musim yang buruk, maka Bu Usmah akan kesulitan mendapat sayur untuk dijual. Kalaupun ada sayuran itu harganya sangat mahal dan terkadang pembeli protes dengan harga yang tinggi. Saat hujan tiba, Bu Usmah harus segera mengamankan sayurannya agar tidak kehujanan, kalau hujan berarti Bu Usmah harus tutup lebih awal dan secara otomatis penghasilannya akan berkurang. Bu Usmah menambahkan, kalau sayurannya masih tersisa atau tidak laku, beliau harus menanggung kerugian.Hambatan yang lain adalah lokasi usaha yang kurang layak, yaitu berada di pinggir jalan yang tidak mempunyai lapak untuk berjualan.
Rencana Bu Usmah, Beliau ingin membangun lapak atau kios yang sederhana untuk tempatnya berjualan.




TE....SATTEE....
            Pak Asmari adalah penjual sate ayam asli dari Madura. Sejak tahun 1980an Pak Asmari merantau dari Pulau Madura meninggalkan anak dan istri untuk mencari nafkah di Surabaya. Sejak saat itulah Beliau menjadi penjual sate ayam.
            Pak Asmari memilih untuk berjualan sate ayam karena ada keturunan dari kakek dan bapaknya yang berjualan sate ayam, jadi Beliau memanfaatkan keahlian dan resep turun-temurun itulah untuk mencari nafkah. Mengapa beliau lebih memilih untuk berjualan di Surabaya, karena di Madura terlalu banyak saingan serupa. Jadi Pak Asmari berpikir bahwa potensi di Surabaya utama daerah Gebang yang dekat dengan lokasi kampus adalah lahan bisnis yang menguntungkan.
Dahulu Pak Asmari meminjam uang dari saudara kurang lebih Rp 100.000,- untuk biaya hidup di Surabaya, untuk membuat gerobak dan sebagai modal awal untuk berjualan sate ayam.
Setiap hari Pak Asmari harus pergi ke pasar untuk membeli daging ayam dan bumbu-bumbu pelengkap seperti bahan untuk sambal, cabe, kecap, dll untuk membuat sate. Pak Asmari membutuhkan 4kg daging ayam setiap harinya dengan harga per kg adalah Rp 26.000,-
Pak Asmari melakukan semua proses dalam membuat sate ayam sendirian tanpa bantuan dari siapapun mulai dari membuat tusuk sate, mengolah daging ayam, membuat sambal sate sampai membuat lontong. Setiap hari Beliau mulai keliling untuk berjualan sate dari jam 14.00 sampai habis satenya.
Pak Asmari mampu menjual 300 tusuk sate ayam per hari. Dengan harga satu porsi Rp 8.000,- tanpa lontong dan harga Rp 10.000,- dengan lontong, maka omset Pak Asmari per hari diperkirakan mencapai Rp 250.000,-. Tetapi omset tersebut tidak pasti, tergantung sepi tidaknya pembeli. Kadang kalau sedang sepi pembeli Pak Asmari hanya mendapat uang Rp 100.000,- itu pun harus berkeliling sampai larut malam.
Dengan penghasilan yang tidak menentu tersebut Pak Asmari tetap bersyukur karena dapat menafkahi istri dan anak-anaknyanya yang berada di Madura. Beliau mempunyai 10 orang anak, meninggal 1 orang, 4 orang sudah berkeluarga. Jadi tanggungan Pak Asmari yang berada di Madura adalah 5 anak dan seorang istri.
Hambatan dalam usaha sate ayam milik Pak Asmari adalah minat pembeli untuk makan sate, karena tidak setiap hari orang ingin makan sate ayam. Selain itu Pak Asmari yang sudah semakin lemah fisiknya tidak sanggup untuk berkeliling berjualan yang terlalu jauh.
Pak Asmari berencana dalam waktu dekat akan membuat kios semi permanen untuk berjualan sate agar Beliau tidak perlu lagi untuk berkeliling berjualan sate. Alasan lain adalah untuk konsumen yang ingin makan di tempat agar dapat terlayani dan merasa nyaman.





Mimpi yang Sempurna II




Senin, 17 Maret 2014

Mimpi yang Sempurna

Bismilllahirrahmanirrahim.....
Ini adalah sebuah mimpi dan cita-cita yang akan memotivasi saya untuk tetap CEMUNGUTT and NEVER EVER GIVE UP :-)