SEGO
JAMUR
Ibu Tini adalah seorang ibu rumah tangga yang
berwirausaha sebagai profesi sampingannya. Bu Tini memulai usaha sekitar 3
tahun lalu dengan berjualan sego jamur.
Lokasi usahanya terletak di Jalan Gebang Wetan pada sebuah kios berukuran 3x4
meter.
Ide untuk memulai usaha sego jamur adalah Beliau terinspirasi dari makanan Jepang yang
bernama Onigiri. Lalu Bu Tini
mengadopsi dan berkreasi dengan sego
jamur. Mengapa memilih Sego jamur sebagai
peluang bisnis karena di Gebang masih sangat jarang penjual sego jamur yang serupa dengan Bu Tini.
Hal itu akan memberi peluang pasar yang lebih besar karena tidak ada saingan.
Selain itu juga karena jamur tiram adalah makanan yang sehat, jadi tidak
menimbulkan penyakit berbahaya.
Proses produksi sego
jamur sangat mudah, yaitu nasi di tanak seperti biasa, lalu di tinggal
ditambahkan olahan jamur tiram di bagian tengahnya. Jadilah sego jamur yang siap dijual dengan harga
Rp 4.000,- untuk porsi kecil dan Rp 6.000,- untuk porsi besar. Keunikan dari
produk sego jamur adalah adanya
varian rasa pedas, balado, dan barbeque.
Omset penjualan dari sego jamur adalah kurang lebih Rp 300.000,- per hari. Omset
tersebut lumayan untuk dapat membantu penghasilan kepala keluarga untuk sekedar
tambahan biaya hidup sehari-hari.
Hambatan yang dialami Bu Tini adalah kalau stok
jamur tiramnya kosong. Maka otomatis Bu Tini akan berhenti berproduksi. Selama
ini Bu Tini mendapat supply jamur tiram dari daerah Bangil dan sekitarnya.
Planning Bu Tini adalah mengembangkan usahanya
dengan membuka kios di kantin kampus ITS, PPNS dan PENS.
HIDUP DARI SAYUR
Dari pojok perempatan di Jalan Gebang Wetan,
terdapat seorang pedagang sayur yang bisa dikatakan tidak muda lagi. Beliau
adalah Bu Usmah. Beliau sudah berwirausaha sebagai pedagang sayur kurang lebih
selama 35 tahun, yaitu sekitar tahun 1970an. “Saya sudah lama sekali berjualan
sayur, mulai saya masih perawan dan Gebang termasuk ITS belum dibangun sampai
sekarang saya punya anak dan cucu”, begitu kata Bu Usmah saat saya wawancarai.
Bu Usmah yang mengaku tidak lulus Sekolah Dasar
memilih berwirausaha sebagai pedagang sayur karena Beliau tidak mempunyai
keahlian lain selain menjadi pedagang. “Enak
begini ae mbak, wong saya juga tidak bisa apa-apa selain
jualan. Disini agak jauh dari pasar
dan orang-orang juga malas kalau tiap harus belanja sayur ke pasar, jadi ya
saya jualan sayur saja”, begitu jawab Bu Usmah saya saya tanya alasan mengapa
Beliau memilih berjualan sayur.
Bu Usmah mengaku sudah lupa dengan modal awal untuk
memulai usaha sebagai pedagang sayur. Beliau mengatakan modal awalnya tidak
lebih dari Rp 50.000,-
Setiap pukul
03.30 Bu Usmah sudah berangkat ke Pasar Krempyeng untuk “kulakan” sayur. Dulu
Bu Usmah pergi ke pasar dengan naik sepeda, sekarang Beliau diantar suaminya
naik motor. Macam-macam sayuran yang dijual antara lain: sawi, tomat, cabai,
bayam, kangkung, wortel, kubis, kacang-kacangan, tempe dll.
Setelah “kulakan” sayur di pasar yaitu sekitar pukul
04.30 Bu Usmah kembali ke rumahnya yang tidak jauh dari lokasi usahanya, yaitu
di Jalan Gebang Lor untuk bersiap-siap mengantar pesanan sayur. Ya, ternyata Bu
Usmah juga sebagai pemasok sayuran segar bagi beberapa warung makanan di Gebang
dan Keputih. Bu Usmah mempunyai 5 warung langganan tetap ntuk mendapat supply
sayur dari beliau.
Setelah selesai mengantar sayur ke warung-warung, Bu
Usmah mulai berjualan di Gebang Wetan. Setiap hari berjualan mulai pukul
06.00-16.00. Perkiraan omset perhari yang di dapat Bu Usmah adalah Rp 90.000 –
125.000,-. Pendapatannya tidak menentu setiap harinya, tergantung banyak
tidaknya pembeli.
Hambatan yang dialami Bu Usmah dalam usahanya
diantaranya adalah saat petani sayur gagal panen karena musim yang buruk, maka
Bu Usmah akan kesulitan mendapat sayur untuk dijual. Kalaupun ada sayuran itu
harganya sangat mahal dan terkadang pembeli protes dengan harga yang tinggi.
Saat hujan tiba, Bu Usmah harus segera mengamankan sayurannya agar tidak
kehujanan, kalau hujan berarti Bu Usmah harus tutup lebih awal dan secara
otomatis penghasilannya akan berkurang. Bu Usmah menambahkan, kalau sayurannya
masih tersisa atau tidak laku, beliau harus menanggung kerugian.Hambatan yang
lain adalah lokasi usaha yang kurang layak, yaitu berada di pinggir jalan yang
tidak mempunyai lapak untuk berjualan.
Rencana Bu Usmah, Beliau ingin membangun lapak atau
kios yang sederhana untuk tempatnya berjualan.
TE....SATTEE....
Pak Asmari adalah penjual sate ayam
asli dari Madura. Sejak tahun 1980an Pak Asmari merantau dari Pulau Madura
meninggalkan anak dan istri untuk mencari nafkah di Surabaya. Sejak saat itulah
Beliau menjadi penjual sate ayam.
Pak Asmari memilih untuk berjualan
sate ayam karena ada keturunan dari kakek dan bapaknya yang berjualan sate
ayam, jadi Beliau memanfaatkan keahlian dan resep turun-temurun itulah untuk
mencari nafkah. Mengapa beliau lebih memilih untuk berjualan di Surabaya,
karena di Madura terlalu banyak saingan serupa. Jadi Pak Asmari berpikir bahwa
potensi di Surabaya utama daerah Gebang yang dekat dengan lokasi kampus adalah
lahan bisnis yang menguntungkan.
Dahulu Pak Asmari meminjam uang dari saudara kurang
lebih Rp 100.000,- untuk biaya hidup di Surabaya, untuk membuat gerobak dan
sebagai modal awal untuk berjualan sate ayam.
Setiap hari Pak Asmari harus pergi ke pasar untuk
membeli daging ayam dan bumbu-bumbu pelengkap seperti bahan untuk sambal, cabe,
kecap, dll untuk membuat sate. Pak Asmari membutuhkan 4kg daging ayam setiap
harinya dengan harga per kg adalah Rp 26.000,-
Pak Asmari melakukan semua proses dalam membuat sate
ayam sendirian tanpa bantuan dari siapapun mulai dari membuat tusuk sate,
mengolah daging ayam, membuat sambal sate sampai membuat lontong. Setiap hari
Beliau mulai keliling untuk berjualan sate dari jam 14.00 sampai habis satenya.
Pak Asmari mampu menjual 300 tusuk sate ayam per
hari. Dengan harga satu porsi Rp 8.000,- tanpa lontong dan harga Rp 10.000,-
dengan lontong, maka omset Pak Asmari per hari diperkirakan mencapai Rp
250.000,-. Tetapi omset tersebut tidak pasti, tergantung sepi tidaknya pembeli.
Kadang kalau sedang sepi pembeli Pak Asmari hanya mendapat uang Rp 100.000,-
itu pun harus berkeliling sampai larut malam.
Dengan penghasilan yang tidak menentu tersebut Pak
Asmari tetap bersyukur karena dapat menafkahi istri dan anak-anaknyanya yang
berada di Madura. Beliau mempunyai 10 orang anak, meninggal 1 orang, 4 orang
sudah berkeluarga. Jadi tanggungan Pak Asmari yang berada di Madura adalah 5
anak dan seorang istri.
Hambatan dalam usaha sate ayam milik Pak Asmari
adalah minat pembeli untuk makan sate, karena tidak setiap hari orang ingin
makan sate ayam. Selain itu Pak Asmari yang sudah semakin lemah fisiknya tidak
sanggup untuk berkeliling berjualan yang terlalu jauh.
Pak Asmari berencana dalam waktu dekat akan membuat kios
semi permanen untuk berjualan sate agar Beliau tidak perlu lagi untuk
berkeliling berjualan sate. Alasan lain adalah untuk konsumen yang ingin makan
di tempat agar dapat terlayani dan merasa nyaman.